Ketum BKN Cak OFi Kritik Keras Program MBG: Dipaksakan dan Berisiko bagi Kesehatan Anak
![]() |
| Ketum BKN Cak OFi Kritik Keras Program MBG: Dipaksakan dan Berisiko bagi Kesehatan Anak (Dok. Istimewa) |
Jakarta,//Gemabanten.com — Ketua Umum Barisan Ksatria Nusantara (BKN), Cak OFi, kembali menyampaikan sikap kritisnya terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di bawah koordinasi Badan Gizi Nasional (BGN). Sebagai aktivis sosial dan kebangsaan, Cak OFi menilai program tersebut dipaksakan, tidak realistis, dan sarat risiko, terutama bagi kesehatan anak-anak sekolah.
Menurut Cak OFi, di atas kertas program MBG terlihat baik, namun dalam praktik lapangan justru menyimpan bahaya besar yang luput dari perhatian pemerintah.
“Ini bukan sekadar soal anggaran, ini soal nyawa dan kesehatan anak bangsa. Makanan dimasak sejak jam 00.00 dini hari, lalu baru sampai ke siswa sekitar jam 11 siang. Itu sudah bukan makanan sehat lagi. Fakta di lapangan, korban keracunan sudah terjadi,” tegas Cak OFi.
Ia menilai pemerintah terlalu fokus pada pencitraan program besar, namun abai terhadap realitas teknis dan dampak riil di lapangan.
Aktivis BKN: Program Besar Tapi Salah Arah
Sebagai Ketua Umum BKN, Cak OFi menegaskan bahwa pihaknya bukan anti-pemerintah, melainkan menjalankan fungsi kontrol sosial agar kebijakan negara tidak keluar dari prinsip kemaslahatan rakyat.
“Kalau program besar tapi salah arah, mubazir, dan membahayakan, maka aktivis wajib bersuara. Anak-anak itu sudah punya ibu yang memasak di rumah. Negara seharusnya memperkuat keluarga, bukan menggantikannya dengan sistem dapur raksasa yang berisiko,” ujarnya.
Ia menyebut bahwa MBG dalam bentuk saat ini justru berpotensi menciptakan masalah baru, bukan menyelesaikan persoalan gizi.
7 Indikasi Bahaya dan Maḍarat Program MBG/BGN Menurut BKN
Cak OFi memaparkan sejumlah indikasi krusial yang menjadi dasar penolakan dan kritik BKN terhadap program MBG:
1. Pemborosan Anggaran Negara
Program ini menelan anggaran sangat besar, berpotensi overbudget dan kebocoran, namun manfaatnya tidak sebanding dengan biaya.
2. Mematikan Peran Keluarga
Negara mengambil alih peran orang tua dalam urusan dasar anak, yang berisiko melemahkan kemandirian keluarga.
3. Risiko Korupsi Terstruktur
Distribusi makanan skala nasional membuka ruang mark-up, vendor titipan, dapur fiktif, dan manipulasi data penerima.
4. Tidak Tepat Sasaran
Program massal dan seragam membuat anak dari keluarga mampu ikut menikmati, sementara anak yang benar-benar miskin justru tidak maksimal terbantu.
5. Mengancam UMKM dan Pedagang Kecil
Sentralisasi dapur dan logistik berpotensi mematikan usaha pangan lokal dan ekonomi rakyat kecil.
6. Membentuk Mental Ketergantungan
Anak dibiasakan menerima tanpa proses, tanpa pendidikan tanggung jawab dan ikhtiar.
7. Risiko Sosial Jangka Panjang
Negara diposisikan sebagai “penanggung hidup”, yang dapat mengikis kemandirian masyarakat dan daya juang generasi muda.
Seruan Evaluasi Total
Atas dasar itu, Cak OFi mendesak pemerintah untuk menghentikan pendekatan seragam dan memaksa dalam program MBG, serta segera melakukan evaluasi total.
“Kalau mau bantu gizi, lakukan secara tepat sasaran. Fokus pada keluarga miskin ekstrem, bantu orang tuanya, perkuat ekonominya. Jangan jadikan anak-anak sebagai kelinci percobaan kebijakan,” tegasnya.
BKN menegaskan akan terus mengawal isu ini dan siap menyuarakan kritik secara terbuka demi memastikan kebijakan negara benar-benar berpihak pada rakyat, bukan sekadar proyek besar tanpa dampak nyata.
Redaksi
