Saling Menyalahkan Bukan Solusi: Polemik Distribusi Menu MBG Gunakan Kantong Plastik di Surianeun Patia, Krisis Tanggung Jawab Kolektif
Pandeglang — gemabanten com Polemik distribusi menu dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Ciawi, yang dikemas menggunakan kantong plastik kresek dan menuai kecaman dari sejumlah penerima manfaat, menghadirkan persoalan yang melampaui sekadar teknis pelaksanaan. Ia membuka ruang refleksi yang lebih dalam: tentang bagaimana tanggung jawab dipahami, dialihkan, atau bahkan dihindari dalam tata kelola program publik.
Pernyataan pihak dapur MBG SPPG Surianeun, Kecamatan Patia, melalui perwakilannya Santa, yang menyebut bahwa peristiwa tersebut merupakan “perbuatan kader,” menjadi titik awal munculnya narasi saling menyalahkan. Di saat yang sama, upaya administratif seperti pemanggilan oleh KSPPG serta pelaporan kepada Korwil dan Kareg telah dilakukan, disertai permohonan maaf kepada pihak dapur. Namun, rangkaian respons ini justru memperlihatkan gejala klasik dalam birokrasi: kecenderungan memindahkan beban tanggung jawab ke lapisan yang lebih lemah secara struktural.
Dalam perspektif filsafat sosial, fenomena ini dapat dibaca sebagai bentuk displacement of responsibility—pengalihan tanggung jawab yang kerap terjadi dalam sistem hierarkis. Ketika suatu kesalahan direduksi menjadi kesalahan individu di tingkat bawah, maka sistem secara keseluruhan luput dari evaluasi. Padahal, dalam kerangka etika publik, tanggung jawab tidak berhenti pada pelaksana teknis, melainkan menjalar hingga ke perancang sistem, pengawas, dan pengambil kebijakan.
Program MBG, sebagai inisiatif yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, seharusnya berdiri di atas prinsip kehati-hatian, standar operasional yang ketat, serta kesadaran kolektif akan pentingnya martabat penerima manfaat. Kemasan makanan bukan sekadar persoalan wadah, tetapi juga representasi dari penghormatan terhadap manusia sebagai subjek, bukan objek kebijakan.
Ketika distribusi dilakukan dengan cara yang dianggap tidak layak, lalu direspons dengan saling menunjuk pihak yang bersalah, maka yang terjadi bukan penyelesaian, melainkan reproduksi masalah dalam bentuk lain. Dalam logika filsafat moral, tindakan demikian mencerminkan kegagalan memahami konsep collective responsibility—bahwa dalam sistem sosial, kesalahan adalah cermin dari relasi, bukan semata individu.
Lebih jauh, budaya saling menyalahkan berpotensi merusak kepercayaan publik. Masyarakat tidak hanya menilai hasil akhir berupa makanan yang diterima, tetapi juga proses dan sikap institusi dalam merespons kritik. Ketika respons yang muncul bersifat defensif dan fragmentatif, kepercayaan yang semestinya dibangun justru terkikis secara perlahan.
Bahasa yang digunakan dalam klarifikasi pun menjadi penting. Pernyataan yang secara implisit menyudutkan kader menunjukkan adanya jarak antara struktur dan pelaksana lapangan. Padahal, dalam pendekatan manajemen modern, kesalahan individu sering kali merupakan manifestasi dari lemahnya sistem: kurangnya pelatihan, absennya standar baku, atau minimnya pengawasan.
Dalam konteks ini, permintaan maaf seharusnya tidak berhenti sebagai gestur simbolik, melainkan menjadi pintu masuk bagi refleksi institusional. Evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme distribusi, penyusunan standar kemasan yang layak, serta pembinaan terhadap seluruh elemen pelaksana menjadi langkah yang lebih substantif dibanding sekadar menentukan siapa yang harus disalahkan.
Filsafat mengajarkan bahwa krisis adalah momen untuk memahami diri secara lebih jernih. Polemik di Ciawi semestinya dibaca sebagai kesempatan untuk memperbaiki cara pandang terhadap tanggung jawab publik. Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari niat baiknya, tetapi dari bagaimana ia dijalankan dengan integritas, kehormatan, dan kesadaran kolektif.
Saling menyalahkan mungkin memberikan jawaban cepat, tetapi tidak pernah menjadi solusi yang utuh. Dalam ruang publik yang sehat, yang dibutuhkan bukan kambing hitam, melainkan keberanian untuk bertanggung jawab bersama.
Penulis " Red/Tim
