PRIMA Soroti Rencana Impor 105 Ribu Pikap: Antara Penguatan Desa dan Masa Depan Industri Nasional
Jakarta - gemabanten.com Rencana impor 105.000 unit mobil pikap dari India oleh PT Agrinas Pangan Nusantara untuk mendukung Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih memicu perdebatan baru tentang arah kebijakan industri nasional.
Dengan nilai proyek yang diperkirakan mencapai Rp24,66 triliun, kebijakan ini tidak hanya dipandang sebagai pengadaan kendaraan operasional, tetapi juga sebagai cermin strategi negara dalam memanfaatkan belanja publik.
Dewan Pimpinan Pusat Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA) menilai, di balik rencana impor tersebut terdapat pertaruhan besar: apakah negara akan memperkuat basis produksi dalam negeri atau justru memperbesar ketergantungan pada produk impor.
Bendahara Umum Partai PRIMA, Ahmad Herwandi, menegaskan bahwa partainya mendukung penuh penguatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai instrumen distribusi logistik dan pangan di tingkat desa. Namun, ia mengingatkan agar kebijakan pengadaan kendaraan tidak dilepaskan dari strategi industrialisasi nasional.
“Kami mendukung penguatan koperasi desa sebagai alat distribusi dan penggerak ekonomi rakyat. Tetapi belanja negara sebesar Rp 24 triliun lebih ini harus dilihat secara strategis. Jangan sampai niat memperkuat desa justru melemahkan industri nasional,” ujar Herwandi dalam keterangannya di Jakarta, Senin (23/2/2026).
Kapasitas Produksi Nasional Dinilai Memadai
Data Kementerian Perindustrian menunjukkan kapasitas produksi kendaraan nasional mencapai sekitar satu juta unit per tahun, termasuk kendaraan niaga ringan seperti pikap. Kebutuhan 105.000 unit untuk program koperasi desa hanya sekitar 10 persen dari kapasitas tersebut.
Bagi Herwandi, angka ini menjadi dasar argumentasi bahwa industri otomotif nasional sebenarnya memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan program tersebut.
Ia memperkirakan, jika pengadaan dilakukan melalui produksi lokal, dampak ekonomi yang tercipta bisa mencapai sekitar Rp27 triliun melalui efek berganda pada industri komponen, tenaga kerja, dan rantai pasok manufaktur.
“Kalau kapasitas nasional satu juta unit per tahun, maka kebutuhan 105 ribu unit itu sangat mungkin diproduksi di dalam negeri. Ini bukan sekadar soal teknis pengadaan, tapi soal keberpihakan pada ekosistem industri kita sendiri,” kata dia.
Risiko Hilangnya Nilai Tambah
Herwandi menilai, rencana impor utuh (completely built up/CBU) dari produsen India seperti Mahindra & Mahindra dan Tata Motors berpotensi mengalihkan sebagian besar nilai tambah ke luar negeri.
Industri otomotif nasional selama ini ditopang ratusan perusahaan komponen dan ribuan tenaga kerja, mulai dari sektor baja, plastik, karet, kelistrikan hingga logistik dan jasa pendukung. Jika pengadaan dilakukan secara impor utuh, maka peluang peningkatan kandungan lokal, penciptaan lapangan kerja, hingga transfer teknologi dinilai menjadi terbatas.
Menurutnya, tanpa konsistensi kebijakan, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar konsumsi, bukan basis produksi regional yang kuat.
“Belanja negara seharusnya menjadi alat ungkit. Kalau kita impor dalam bentuk utuh, nilai tambahnya lebih banyak dinikmati negara lain. Padahal kita punya basis industri yang cukup kuat,” tegasnya.
Persoalan Purna Jual dan Ketahanan Operasional
Selain aspek industri, PRIMA juga menyoroti potensi persoalan layanan purna jual. Kendaraan operasional koperasi desa akan digunakan di wilayah dengan kondisi geografis beragam, termasuk daerah terpencil.
Herwandi menjelaskan, impor utuh tanpa basis produksi atau perakitan kuat di dalam negeri dinilai berisiko menimbulkan keterbatasan jaringan bengkel resmi, ketersediaan suku cadang, hingga tingginya biaya perawatan akibat fluktuasi nilai tukar.
“Kalau suku cadang harus menunggu impor, koperasi bisa terganggu operasionalnya. Ini bukan sekadar beli mobil, tapi soal menjamin keberlanjutan distribusi logistik desa,” ujar dia.
Sebaliknya, lanjut dia, jika pengadaan dilakukan melalui skema produksi atau perakitan dalam negeri (CKD/IKD), maka jaringan layanan purna jual, pelatihan teknisi lokal, hingga distribusi suku cadang dapat tumbuh di daerah.
Herwandi menegaskan bahwa penguatan ekonomi desa dan penguatan industri nasional bukanlah dua agenda yang bertentangan. Perdebatan mengenai rencana impor 105.000 pikap ini pun menjadi ujian konsistensi arah kebijakan ekonomi nasional: apakah belanja publik akan menjadi katalis industrialisasi atau sekadar transaksi pengadaan semata.
“Desa harus kuat, industri juga harus kuat. Keduanya harus berjalan beriringan sebagai strategi kedaulatan ekonomi bangsa. Belanja negara dalam jumlah besar harus memberi manfaat maksimal, baik bagi rakyat di desa maupun bagi pekerja dan industri di dalam negeri,” tutupnya.
Rekomendasi PRIMA
Sebagai solusi, PRIMA merekomendasikan agar pemerintah:
1. Mengutamakan produksi dalam negeri sepanjang kapasitas tersedia.
2. Mendorong skema perakitan lokal bila kerja sama dengan produsen asing tetap dilakukan.
3. Menerapkan kewajiban kandungan lokal (TKDN) secara progresif.
4. Memastikan pembangunan jaringan layanan purna jual nasional sebelum pengadaan dilakukan.
5. Mengintegrasikan program koperasi desa dengan strategi industrialisasi nasional,
*Red/Tim*
