BREAKING NEWS

Dr. Helena Octavianne Tampilkan Karya di HUT ke-75 PERSAJA, Tegaskan Pentingnya Budaya Baca Adhyaksa



JAKARTA, — gemabanten.com Upaya memperkuat tradisi literasi di lingkungan penegak hukum menemukan momentumnya dalam gelaran Pameran Buku Persatuan Jaksa Indonesia (PERSAJA) yang diselenggarakan di M Bloc Space pada 28 hingga 30 April 2026. Mengusung tajuk “Adhyaksa Readers” dan “Persaja Literacy Space”, kegiatan ini menjadi bagian integral dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-75 PERSAJA.


Sebagai organisasi profesi yang menaungi jaksa di seluruh Indonesia, PERSAJA tidak hanya menjalankan mandat kelembagaan dalam penegakan hukum, tetapi juga mendorong artikulasi pemikiran melalui medium literasi. Pameran ini menghadirkan puluhan karya tulis yang merepresentasikan spektrum gagasan, mulai dari kajian hukum, hasil penelitian, hingga refleksi konseptual para insan Adhyaksa.


Di antara para kontributor, kehadiran Helena Octavianne menjadi sorotan tersendiri. Akademisi sekaligus praktisi hukum yang kini menjabat sebagai Kepala Bagian Reformasi Birokrasi pada Biro Perencanaan Kejaksaan Agung tersebut menampilkan empat karya bukunya dalam pameran. Keempat buku itu dipajang sejajar dengan karya-karya lain, membentuk lanskap intelektual yang mencerminkan dinamika pemikiran di tubuh institusi kejaksaan.


Helena menilai pameran buku memiliki fungsi strategis sebagai ruang legitimasi sekaligus eksposur bagi penulis, terutama bagi mereka yang belum memiliki pengakuan luas di ruang publik.


“Pameran menjadi medium yang efektif untuk memperkenalkan gagasan kepada khalayak yang lebih luas, sekaligus membangun identitas intelektual penulis,” ujarnya, Sabtu (2/5/2026).


Dalam pandangannya, tantangan terbesar dunia literasi saat ini terletak pada disrupsi digital yang memengaruhi pola konsumsi informasi masyarakat. Buku, yang menuntut kedalaman atensi dan refleksi, kerap tersisih oleh arus informasi instan yang serba cepat.


“Di tengah dominasi platform digital, buku sering kali dipersepsikan kurang relevan. Padahal, justru di situlah letak kekuatannya—memberikan kedalaman analisis dan ketenangan berpikir yang tidak tergantikan,” kata Helena.


Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa partisipasinya dalam pameran tersebut menghadirkan dimensi emosional sekaligus intelektual. Proses panjang penulisan—yang mencakup pergulatan ide, revisi berlapis, hingga proses penerbitan—mendapatkan validasi ketika karya tersebut hadir di ruang publik dan berinteraksi langsung dengan pembaca.


“Ada kepuasan batin yang sulit dijelaskan ketika melihat buku dengan nama kita terpampang di rak pameran. Ia bukan sekadar objek, melainkan representasi dari proses berpikir yang panjang dan intens,” tuturnya.


Menurut Helena, momen tersebut menjadi penanda bahwa kerja intelektual yang kerap berlangsung dalam kesunyian pada akhirnya menemukan resonansinya di tengah masyarakat.


“Pahit-getir dalam proses kreatif—dari kebuntuan ide hingga penantian penerbitan—seolah terbayar ketika buku itu siap dibaca dan diapresiasi,” ungkapnya.


Pameran Buku PERSAJA tahun ini tidak sekadar menjadi ruang transaksi literasi, melainkan forum reflektif yang mempertemukan gagasan, pengalaman, dan visi keilmuan para jaksa, inisiatif ini menegaskan pentingnya membangun kultur intelektual yang berkelanjutan di lingkungan penegak hukum sebagai fondasi bagi penguatan kualitas institusi dan demokrasi.

Penulis' Redaksi

Posting Komentar
ADVERTISEMENT